Beranda

Entri Populer

Rabu, 14 September 2011

laporan praktikum ANATOMI KADAL (Mabouya multifasciata)





I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


        Mabouya multifasciata atau kadal adalah salah satu jenis reptilia yang hidup di darat. Kadal ini merupakan jenis kelompok kadal yang paling banyak di Afrika, kepulauan Indonesia, dan Australia. Jumlah spesies kadal ini melampaui jumlah familia reptil yang lainnya. Separuh atau lebih spesies terdapat di Asia Tenggara dan hanya kira-kira 50 spesies saja yang berada di belahan bumi barat.


Kadal adalah vertebrata dengan kulit kering, tertutup oleh sisik-sisik atau papan-papan epidermal. Tengkorak biasanya sedikit tertekan lateral, dengan sebuah kondil oksipital. Sabuk-sabuk badan (girdle) tumbuh baik. Tubuh kadal terbagi menjadi tiga bagian,yaitu kepala (caput), badan (truncus), dan ekor (cauda). Tubuh kadal ditutupi oleh kulit yang kering dengan sisik-sisik zat tanduk di permukaannya tanpa adanya kelenjar-kelenjar lendir.


Kadal bernafas dengan paru-paru yang strukturnya lebih kompleks dari amphibian. Ginjal kadal bertipe metanerfos. Fertilisasinya internal dan bersifat ovovivipar yang menghasilkan telur dengan banyak kuning telur. Telur itu tumbuh dan berkembang dalam oviduk (saluran telur) hewan betina. Saluran telur itu disebut uterus.


Mabouya multifasciata digunakan sebagai preparat praktikum untuk mewakili class reptilian. Praktikum ini menggunakan Mabouya multifasciata karena hewan ini tidak berbisa sehingga tidak berbahaya. Selain itu, hewan ini mempunyai struktur morfologi dan anatomi yang mudah diamati.






B. TUJUAN


Tujuan dari praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan I kali ini adalah untuk melihat anatomi kadal jantan (Mabouya multifasciata ♂)
II. KERANGKA PEMIKIRAN


Mobouya multifasciata masuk dalam ordo Lacertilia (sauria) yang mempunyai cirri-ciri antara lain kuku panjang, tapi kurang dari 30 cm, kaki 4 buah yang kadang- kadang tereduksi atau hilang sama sekali. Mandibula menyatu di bagian anterior, tulang kuadrat berkontrak dengan pterigoid, sehingga terbukanya mulut terbatas (tidak seperti ular). Kelopak mata biasanya dapat digerakan (Brotowidjoyo, 1993). Kadal (Mabouya multifasciata) memiliki lidah yang ujungnya bercabang dan mengeluarkan kelenjar lidah. Hal itu sesuai dengan pernyataan Moment (1967), bahwa bagian yang paling spektakuler dari system pencernaan reptile adalah lidah yang ujungnya bercabang.


Kadal merupakan hewan berkaki empat, kebanyakan hidup di atas tanah berumput, bebatuan, pepohonan, ada juga yang hidup di gurun pasir. Umumnya kulit mengkilap dan berwarna kehijauan sampai coklat. Kulit pada reptilia tidak berfungsi untuk pertukaran gas sehingga tidak ada percampuran darah dalam dan darah berasal dari luar. Fertilisasi reptil terjadi secara internal dan sebagian besar dari reptil bersifat ovovivipar dan telur berkembang di luar tubuh (Manter & Miller, 1959).


Tubuh kadal memanjang, tertekan lateral, berkaki empat, kuat dan dapat digunakan untuk memanjat. Mandibula bersatu di bagian anterior dan tulang pterigoid, berkontak dengan tulang kuadrat. Kelopak mata dapat digerakkan. Sabuk pectoral dapat berkembang baik dan mulut lengkap. Ekornya digunakan untuk keseimbangan gerak ketika berlari (Ville et al., 1998). 


Subordo lacertilia pada bagian rahang bawah bersatu sehingga kadal kurang dapat membuka mulutnya. Hewan ini mempunyai dua pasang anggota badan yang bersifat pentadactil. Membran thympani tidak cembung dan celah auris external jelas terlihat. Palpebra superior dan inferior dapat digerakkan, juga membran nictitansnya (Radiopoetro, 1977). Mabouya multifasciata mempunyai kemampuan bergenerasi pada bagian ujung ekor yang lepas. Hal ini terjadi jika ekor kadal dipegang, maka vertebrata ini akan melepaskan ekornya untuk melarikan diri (Storer dan Usinger, 1957).


Kelebihan utama reptilia adalah perkembangan telurnya. Telur tersebut bercangkang dan berisi kuning telur. Telur ini dapat diletakkan di atas tanah tanpa kemungkinan kering (Kimball, 1991). 


Fertilisasi kadal termasuk fertilisasi internal. Kadal bersifat ovovivipar dan menghasilkan telur dengan banyak kuning telur, dan telur itu tumbuh dan berkembang dalam oviduk hewan betina. Embrio dikelilingi oleh amnion, chorion, dan alantois (Brotowidjoyo, 1993).


Sistem pencernaan terdiri dari tenggorokan yang panjang dan lambung yang masih sederhana. Jantung kadal memanjang berwarna merah tua dan terlihat batang trachea. Jantung terdiri dari tiga lobi, yakni dua atrium dan satu ventrikel. Paru-paru kadal sudah berkembang dengan baik dan ukurannya cukup besar (Djuhanda, 1982)




III. ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA


A. Alat


Alat-alat yang digunakan adalah bak preparat, pnset, gunting bedah, pisau, jarum penusuk.


B. Bahan


Bahan yang digunakan adalah kadal jantan (Mabouya multifasciata)


, air kran, kloroform, formalin, tissue.


C. Cara Kerja

Cara kerja praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Kadal dimasukkan ke larutan kloroform dan dibiarkan sampai mati lemas.


2. Setelah mati kadal dibedah. Pembedahan dimulai dengan pengguntingan di depan lubang kloaka ke sisi kiri dan kanan tubuh kemudian ke arah depan melewati kaki depan smpai ke tengah rahang atas.


3. Hemipenis kadal dapat diketahui dengan cara menekan pangkal ekor.


4. Bagian-bagian rongga mulut dapat diketahui dengan cara menggunting kedua sudut mulut lebar-lebar, rahang dibuka kemudian ditarik bagian atas dan bawah, maka bagian dalam akan kelihatan. 


5. Bagian-bagian dalam tubuh reptil diamati dan digambar serta diberi keterangan gambar.






B. Pembahasan


Klasifikasi Mabouya multifasciata menurut Brotowidjoyo (1993), adalah sebagai berikut :


Phylum : Chordata


Subphylum : Vertebrata


Class : Reptilia


Ordo : Squamata


Subordo : Lacertilia


Familia : Scincidae


Genus : Mabouya


Spesies : Mabouya multifasciata


Pengamatan anatomi kadal jantan (Mabouya multifasciata ♂) didapatkan hasil bahwa kadal terdiri dari caput,cervix,truncus, dan cauda. Caput berbentuk agak pyramidal, meruncing kea rah rostal, dan memipih kea rah dorsoventral. Caput kadal terdiri dari : rima oris yang dibatasi oleh labium superior dan labium interior. Organon visus dilindungi oleh palpebra superiorvdan palpebra interior yang keduanya dapat di gerakan. Membran nictitans berwarna keputihan terletak disudut anteriorborbita, yang dapat menutupi seluruh mata. Maxilla bagian dorsal dapat dilihat adanya nerses anterior berupa lubang kecil yang sepasang. Lubang telinga juga sepasang, dan membrane tymphani terletak agak ke dalam. Cervix (collum) pada kadal ini jauh lebih panjang dibandingkan dengan hewan-hewan dari Class Amphibia (Radiopoetro, 1977).


Mabouya multifasciata mempunyai kulit yang bersisik dan kering. Kulitnya yang kurang menembus air, sehingga cairan yang hilang dari badan melalui kulit sedikit. Tulang rusuk pada kadal dapat bergantian merenggang kemudian merapat karena terdapat perangkat otot-otot tulang rusuk yang yang berlawanan (Kimball, 1991).


Sistem sirkulasi dari kadal berupa jantung yang memperlihatkan kemajuan daripada amphibi meskipun aliran darah arteri dan vena tidak seluruhnya terpisah. Jantung terbungkus oleh suatu membran transparan, yaitu perikardium, dan dibatasi oleh endokardium (Parker and Haswell, 1978). Jantung kadal mempunyai empat ruang, dua atrium, dan dua ventrikel. Akan tetapi, sekat dari ventrikel kanan dan kiri belum sempurna, sehingga terlihat jantung hanya terdiri dari tiga ruang (Djuhanda, 1982).


Sistem pencernaannya terdiri dari hepar, gastrum, lien, pankreas, duodenum, ductus choleodocus, rectum dan kloaka. Reptil selain mempunyai kelenjar ludah, yang letaknya di dasar rongga mulut, dilengkapi juga kelenjar rongga mulut di depan antar lidah dan bagian depan dari rahim bawah. Kerongkongan adalah salah satu organ pencernaan makanan yang terletak di sebelah dorsal dari tenggorokan, dinding kerongkongan sebagian besar strukturnya terdiri dari otot polos. Kadal mempunyai bentuk kerongkongan yang lebih panjang daripada bengsa ikan dan amphibi karena pada kadal sudah memiliki leher.


Intestinum (usus) adalah salah satu organ sistem pencernaan yang bentuknya mirip seperti selang atau saluran, mulai dari bagian pylorus sampai pada bagian kloaka atau anus. Vertebrata tingkat tinggi bentuk ususnya panjang dan berkelok-kelok. Pankreas terletak di bagian duodenum. Pancreas pada umumnya terdiri dari dua bagian : bagian eksokrin yang menghasilkan getah pankreas dan fungsinya untuk membantu dalam pencernaan makanan, kemudian bagian endokrin yang menghasilkan hormon insulin yang berfungsi untuk mengendalikan kadar gula dalam darah. Pankreas kadal terdapat pada pertemuan antara lambung dengan duodenum (Orr, 1976).


Sistem urogenital terdiri dari ginjal sepasang berbentuk tidak teratur, berwarna merah tua, terdiri dari dua lobi anterior dan posterior (Parker and Haswell, 1978). Kadal mempunyai kantong kemih atau kantong urine yang berfungsi membawa air untuk melembabkan tanah yang akan digunakan sebagai sarang. Ureter bermuara dalam kloaka dan akan diserap kembali ke dalam kantong urine (Djuhanda, 1982).


Testis pada kadal mempunyai kecenderungan bahwa satu testis terletak lebih tinggi dari testis yang lain. Bagian dari ductus wolffi dekat testis berkelok-kelok untuk membentuk epididymis. Ductus wolffi ke arah posterior menjadi ductus deferens yang biasanya lurus, tetapi ada pula yang berkelok-kelok (Radiopoetro, 1977).






V. KESIMPULAN


Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:


1. Kadal (Mabouya multifasciata) termasuk phylum : Chordata, subphylum : Vertebrata, class : Reptilia, ordo : Squamata, subordo : Lacertilia, famili : Scincidae, genus : Mabouya, spesies : Mabouya multifasciata.


2. Tubuh kadal terbagi tiga yaitu: kepala, badan, dan ekor. Kadal mempunyai sistem pernapasan, reproduksi, dan ekskresi.


3. Sistem pencernaan pada kadal terdiri dari hepar, gastrum, lien, pankreas, duodenum, ductus choleodocus, rectum dan kloaka.


6. Sistem ekskresi kadal terdiri dari ginjal, kantong kemih, dan ureter.


7. Sistem peredaran darah pada reptile adalah peredaran ganda yang strukturnya 


Hampir sempurna


8. Sistem genitalia kadal jantan terdiri dari testis, epididymis, dan hemipenis.


9. Sistem genitalia kadal betina terdiri dari ovarium, tuba falopii, dan kloaka.










DAFTAR REFERENSI


Brotowidjoyo, M. 1993. Zoologi Dasar. Penerbit Erlangga 


Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata 1. Armico, Bandung

Kimball, J. W. 1991. Biologi Jilid 3. Erlangga, Jakarta.

Manter & Miller. 1959. Introduction to Zoology. Harper and Row Publisher, New York.

Moment, G. B. 1967. General Zoologi. Bentley Glass, Boston.


Orr, T, Robert. 1976. Vertebrate Biology 4th Edition. WB. Sounders Company, Philadelphia.


Parker, T. J. & Haswell, W. A. 1978. Text Book of Zoology II Vertebrates. The Mac Millan Press, New York. 

Radiopoetro. 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta.


Storer, I. Tracy; Usinger, Robert L. 1957. General of Zoology. Mc Graw Hill Book Company Inc., New York.

Ville, C. A, Walker, W. F, and Smith, F. E. 1998. General Zoology. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 






Laporan praktikum biologi

.laporan praktikum  struktur perkembangan hewan


 1.  ANATOMI IKAN NILEM (Osteochillus hasselti) 
   Dan IKAN LELE (Claries batrachus)








I.    PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang


            Sebagian besar wilayah dunia terdiri atas air. Ikan adalah salah satu hewan vertebrata yang hidup di air. Ikan bernapas dengan menggunakan insang, tetapi ada beberapa jenis ikan yang bernapas menggunakan paru-paru. Ikan merupakan salah satu sumber protein bagi manusia, antara lain ikan Nilem (Osteocillus hasselti), dan masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan ikan wader. Protein yang berasal dari ikan merupakan 1/5 dari protein hewani yang dihasilkan dari seluruh dunia. Daging ikan mengandung 13-20% protein. Lemak ikan banyak mengandung asam lemak tak jenuh.
            Ikan Nilem habitat aslinya di daerah beriklim sedang dengan suhu berkisar 18-28 ºC. Ikan Nilem hidup di tempat-tempat yang dangkal dengan arus yang tidak begitu deras, seperti danau, sungai, rawa, dan genangan-genangan air. Ikan ini mudah berkembang biak menurut aturan air mengalir. Ikan ini memakan planton dan peripyton (jasad yang menempel pada tanaman air). Ikan ini dapat bereproduksi pada usia kira-kira 9 bulan. Induk dari ikan Nilem yang dapat dipelihara di kolam berusia satu sampai dua tahun selang waktu memijahan tiga sampai empat bulan sekali.
            Morfologi antara ikan Nilem jantan dan betina mempunyai perbedaan. Ikan Nilem betina bentuknya membulat, kurang gesit, bagian operculum halus, perut mengembang ke arah samping dan ke arah lubang pelepasan serta mempunyai gonad yang berwarna kuning. Ikan Nilem jantan perutnya lebih ramping, lebih gesit bagian pipih kasar, perut mengembang, dan gonadnya berwarna putih susu.
     Osteochillus hasselti digunakan untuk praktikum untuk mewakili class pisces. Osteochillus hasselti dipilih karena selain mudah didapat, juga murah harganya. Osteochillus hasselti mempunyai organ-organ penyusun yang lengkap dan jelas sehingga mudah diamati struktur tubuhnya.
Lele atau ikan keli, adalah sejenis ikan yang hidup diair tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki "kumis" yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya.
Pada awal perkembangannya, tahun 1985 sd 1988, lele dumbo merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sangat mahal harganya, terutama yang berukuran benih. Hal ini disebabkan karena pada waktu itu penyebarannya masih langka.
Banyak jenis lele yang merupakan ikan konsumsi yang disukai orang. Sebagian jenis lele telah dibiakkan orang, namun kebanyakan spesiesnya ditangkap dari populasi liar di alam. Lele dumbo yang populer sebagai ikan ternak, sebetulnya adalah jenis asing yang didatangkan (diintroduksi) dari Afrika.
Lele dikembangbiakkan di Indonesia untuk konsumsi dan juga untuk menjaga kualitas air yang tercemar. Seringkali lele ditaruh di tempat-tempat yang tercemar karena bisa menghilangkan kotoran-kotoran. Lele yang ditaruh di tempat-tempat yang kotor harus diberok terlebih dahulu sebelum siap untuk dikonsumsi. Diberok itu ialah maksudnya dipelihara pada air yang mengalir selama beberapa hari dengan maksud untuk membersihkannya.
Ikan-ikan marga Clarias dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya.

B.  TUJUAN

Tujuan dari praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan  I kali ini adalah untuk melihat anatomi Ikan nilem (Osteochillus hasselti) dan Ikan Lele (Claries batrachus).

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Osteocillus hasselti adalah salah satu jenis ikan tawar yang dapat tumbuh dengan baik jika dipelihara di kolam atau sawah. Ikan nilem dapat hidup di daerah tinggi dan rendah yaitu pada ketinggian 200-700 meter. Makanan ikan ini berupa hewan-hewan kecil tetapi juga makanan lain seperti dedak dan ampas (Kastowo, 1986).
Susunan tubuh ikan terdiri dari bagian luar dan bagian dalam. Susunan tubuh ikan bagian luar terdiri dari kepala, badan, ekor, mulut, cekung hidung, mata, tutup insang, sisik, gurat sisi, sirip perut, sirip dada, sirip punggung, sirip belakang, dan sirip ekor. Sedangkan susunan tubuh bagian dalam adalah saluran pencernaan, gelembung renang, kelenjar pencernaan, insang, jantung, kelenjar kelamin, dan ginjal (Prawirohartono, 1989).
Mulut berahang, skeleton sebagian atau seluruhnya bertulang menulang. Kondrokranium (kranium tulng rawan) dilengkapi oleh tulang dermal tubuh membentuk tengkorak majemuk. Sisik bertipe sikloid yang berasal dari mesodermal. Saat stadium embrio ada 6 celah insang, untuk ikan dewasa biasanya tinggal 4 celah. Insang-insang itu tertutup oleh operkulum (Brotowidjoyo, 1993).
Kulit atau cutis terdiri atas corium atau dermis dan epidermis. Corium terdiri atas jaringan pengikat. Epidermis yang melapisinya dari sebelah luar ialah epithelium. Di antara cel-cel epithelium terdapat kelenjar unicelluler yang mengeluarkan lendir lendir ini menyebabkan kulit ikan menjadi licin. Dalam corium terdapat chromatophor-chromatophor ialah sel-sel yang mengandung butir-butir pigment, yang  menentukan warna kulit (Radiopoetro, 1977).
Fungsi organ dalam ikan yaitu gelembung renang (vasica matatoria) sebagai alat keseimbangan naik turun di dalam air. Ginjal (ren) sebagai tempat penyaringan urin. Usus (intestine) sebagai saluran pencernaan, tempat penyerapan sari-sari makanan. Ureter untuk menyalurkan urin (air seni) dari ginjal ke vesica urinaria. Iinsang sebagai alat pernapasan (Kimball, 1991).
Sistem pencernaannya terdiri dari rahang yang mengandung gigi yang berguna untuk mengunyah makanan. Terdapat juga kelenjar mucosa, tetapi tidak terdapat kelenjar ludah. Selanjutnya makanan menuju oesophagus terus ke ventriculus. Antara ventriculus dan intestinum terdapat klep pylorus. Sistem reproduksi pada ikan jantan terdapat sepasang testis, melalui vas deferent sperma dikeluarkan melalui papillae urogenetalis. Untuk hewan betina, sel telur keluar pada oviduct. Pembuahan umumnya terjadi diluar tubuh (Jasin, 1989).
            Ikan Nilem jantan terdapat sepasang testis yang panjang. Testis terletak ventral dari ren. Ujung caudal mulai dari vas deferens yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis. Ikan Nilem betina terdapat sepasang ovaria yang panjang. Ovaria ini mempunyai rongga yang ke caudal melanjutkan diri ke dalam oviduk yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis (Radiopoetro,1977).


Lele tidak pernah ditemukan di air payau atauair asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan (Suyanto, SR. 1991).
Ikan lele bersifat noktural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan.
Ikan-ikan marga Clarias dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya (Jauhari, M.A. 2005).
II. ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA
A. Alat
            Alat-alat yang digunakan adalah bak preparat, pnset, gunting bedah, pisau, jarum penusuk.
B. Bahan
            Bahan yang digunakan adalah Ikan Nilem (Osteochillus hasselti), dan
Ikan Lele (Claries batrachus), air kran, kloroform, formalin, tissue.

C. Cara Kerja
            Cara kerja praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Ikan dibius dengan menggunakan kloroform,
2.      ikan digunting dari depan anus, sepanjang garis medio-ventral tubuh ke arah depan sampai depan sirip dada,
3.      bagian belaahan daging bagian atas dibuka dengan pinset, dari anus  kearah tubuh bagian dorsal digunting ke arah anterior sampai ke tutup insang,
4.      bagian kepala digunting pada bagian tutup insang bagian dorsal dan ventral sampai ke ujung moncong,
5.      sebelah vental dari insang terdadap jantung diharuskan hati-hati agar jantung tidak pecah.

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN


A.  Hasil 
B. Pembahasan

1. Klasifikasi Ikan nilem (Ostheochillus hasselti) menurut Bleiker dalam Saanin (1985) adalah sebagai berikut :
Phylum            : Chordata
Subphylum      : Vertebrata
Clasiss             : Pisces
Subclasiss        : Teleostei
Ordo                : Ostariophysi
Subordo          : Cyprinoideae
Familia            : Cyprinidae
Genus              : Osteochillus
Spesies            : Osteochillus hasselti
Hasil pengamatan Ikan Nilem didapatkan hasil bahwa tubuh ikan Nilem dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu caput (kepala), truncus (badan), dan cauda (ekor). Batas caput mulai dari moncong sampai bagian belakang tutup insang, batas truncus mulai dari belakang tutup insang sampai anus, sedangkan batas cauda mulai dari anus sampai ujung sirip ekor. Bagian pernapasan terluar yang terdapat pada bagian kepala adalah insang dan empat potong tulang-tulang kecil yaitu operculum, preoperculum, interoperculum, dan suboperculum. Rongga insang terletak antara insang dan operculum, lubang insang berupa celah sempit yang melengkung antara gelang bahu dan operculum (Djuhanda, 1981).

Fungsi organ dalam ikan yaitu gelembung renang (vesica metoria)sebagai alat keseimbagan naik turun dalam air. Ginjal (Ren senagi tempat penyaringan urin.Usus (intestin) sebagai saluran pencernaan, tempat penyerapansari-sari makanan. Ureter untuk menyalurkan urin ( air seni) dari ginjal ke vesica urinaria. Insang sebagai alat pencernaan.(kimball, 1991).

            Sistem pencernaannya terdiri dari rahang yang mengandung gigi yang berguna untuk mengunyah makanan. Terdapat juga kelenjar mucosa, tetapi tidak terdapat kelenjar ludah, Selanjutnya makanan menuju oesophagus terus ke ventriculus, antara ventriculus dan intestinum terdapat klep pylorus. (Jasin, 1989).
Menurut Hildebrand (1995) ikan Nilem memiliki organ-organ pencernaan berupa intestine, hepar, dan vesica felea. Lien dan vesica felea terdapat disebelah dalam intestine, dan akan tampak setelah intestine direntangkan. Ductus choleoduchtus merupakan saluran pada empedu yang menghubungkan kantung empedu dengan usus melalui saluran empedu pendek.
Menurut Storer and Usinger (1961), sistem pencernaan ikan terdiri dari : rahang ikan mempunyai banyak gigi kecil berbentuk kerucut untuk mengunyah makanan  dan lidah kecil dalam di dasar rongga mulut membantu gerakan respirasi. Farink terdapat insang di sisi dan samping lalu ke esophagus pendek mengikuti hingga timbul lambung atau gastrum. Pyloric value terpisah belakang dari intestine. Tiga tubular pyloric caeca, fungsi mengabsorpsi, mengambil ke intestine. Tiga hati besar di dalam rongga tubuh dengan kantung empedu dan saluran ke intestine. Pankreasnya tidak jelas.
Menurut Djuhanda (1982), lengkung insang pada ikan nilem berupa rawan yang sedikit membulat dan merupakan tempat melekatnya filamen-filamen insang. Arteri branchialis dan arteri epibranchialis terdapat pada lengkung insang di bagian basal pada kedua filamen insang pada bagian bsalnya. Tapis insang berupa sepasang deretan batang-batang rawan yang pendek dan sedikit bergerigi, melejat pada bagian depan dari lengkung insang.
Sistem reproduksi pada ikan jantan terdapat sepasang testis, melalui vas deferent sperma dikeluarkan melalui papillae urogenetalis. Hewan betina, sel telur keluar pada oviduct dan ovarium. Pembuahan umumnya terjadi diluar tubuh (Jasin, 1989).
            Ikan Nilem jantan terdapat sepasang testis yang panjang. Testis terletak ventral dari ren. Ujung caudal mulai dari vas deferens yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis. Ikan Nilem betina terdapat sepasang ovaria yang panjang. Ovaria ini mempunyai rongga yang ke caudal melanjutkan diri ke dalam oviduk yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis (Radiopoetro,1977).
            Sistem ekrekresinya meliputi vesica urinaria, ureter, ginjal, porus urogenitalis. (Bambang,1997)

2. Klasifikasi Ikan Lele Menurut  Santoso (1994) sebagai berikut,
Phyllum         : Chordata
Sub-phyllum    : Vertebrata
Class               : Pisces
Ordo                : Ostariophysi
Familia            : Clariidae
Genus              : Clarias
Species             : Clarias batrachus
Bagian-bagian tubuh ikan lele dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan ekor. Kepala yaitu mulai dari moncong sampai dengan batas tutup insang. Badan dimulai dari belakang tutup insang sampai dengan anus. Sedangkan ekor dimulai dari belakang anus sampai dengan ujung sirip ekor (Rahardjo, MF dan Muniarti. 1984).
Organ dalam ikan lele terdiri dari cor, hepar, vesica felea, gastrum, intestine, ren, limpha, organ pengeluaran, dan organ kelamin.
 Pencernaan merupakan proses yang berlangsung terus-menerus. Bermula setelah pengambilan makanan dan berakhir dengan pembuangan sisa makanan. Sistem pencernaan makanan Ikan Lele (Clarias sp.) dimulai dari mulut, rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus, rektum, dan anus. Struktur anatomi mulut ikan erat kaitannya dengan cara mendapatkan makanan. Sungut terdapat di sekitar mulut lele yang berperan sebagai alat peraba atau pendeteksi makanan dan ini terdapat pada ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal). Rongga mulut pada ikan lele diselaputi sel-sel penghasil lendir yang mempermudah jalannnya makanan ke segmen berikutnya, juga terdapat organ pengecap yang berfungsi menyeleksi makanan. Faring pada ikan (filter feeder) berfungsi untuk menyaring makanan, karena insang mengarah pada faring maka material bukan makanan akan dibuang melalui celah insang (Dellman,H.D. and Brown,E.M. 1989).
Ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut Aborescen organ yang merupakan menbran yang berlipat-lipat penuh dengan kapiler darah. Alat ini terletak didalam ruangan sebelah atas insang. Dalam sejarah hidupnya lele lele harus mengambil oksigen dari udara langsung, untuk itu ia akan menyembul kepermukaan air. Oleh karena itu jika pada kolam banyak terdapat eceng gondok ikan ini tidak berdaya (Angka, S. L.  1990).
            Sistem respirasi pada ikan lele alat-alat respirasi tersusun atas ingsang yang berada pada sisi kiri dan kanan kepalaSedangkan pada ikan alat-alat respirasinya hanya tersusun atas ingsang yang berada pada sisi kiri dan kanan kepalanya.




IV.   KESIMPULAN


            Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) merupakan hewan air, termasuk phylum : Chordate, subphylum : Vertebrata, class : Pisces, ordo : Ostariophysi, family : cyprinidae, spesies : Osteochillus hasselti.
2.      Tubuh ikan Nilem terdiri dari kepala (caput), badan (truncus), dan ekor (cauda). Seluruh badannya bersisik dan terdapat gurat sisi.
3.      Sistem pencernaannya terdiri atas lidah, hati, gastrum, intestine, pankreas, kantung empedu.
4.      Sistem pernafasan ikan Nilem terdiri dari insang dan vesica metatoria (gelembung renang).
5.      Sistem eksresi atau urinaria pada ikan Nilem terdiri dari ren, ureter, vesica urinaria, dan sinus urogenitalis.
6.      Sistem genitalia pada ikan Nilem betina terdiri atas sepasang ovaria yang panjang, oviduct, dan sinus urogenitalis.
7.      Fertilisasi pada ikan Nilem adalah fertilisasi eksternal.

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada anatomi Ikan Lele (Clarias batracus) maka dapat diambil kesimpulan sebagi berikut :
1. Ikan lele (Clarias batracus) adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar.
2. Ikan lele mempunyai aborsent yaitu alat pernafasan tambahan pada ikan lele.
3. Ikan lele (Clarias batracus) tidak mempunyai sisik, mempunyai barbell.

DAFTAR REFERENSI


Angka, S. L. 1990. The pathology of the walking catfish, Clarias batrachus (L)  infected intraperitoneally with Aeromonas hydrophila.Asian Fish.Sci.

Bambang, M. 1997. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.

Djuhanda, T. 1981. Anatomi dari Empat Species Hewan vertebrata. Armico, Bandung.

Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata. Jilid I. Amrico,      Bandung.
Hildebrand, M. 1995. Analysis of Vertebrate Structure. John Willey and Sons, Inc, New York.

Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan. Sinar Jaya, Surabaya. 
Jauhari, M.A. 2005. Penyediaan Induk dan Benih Bermutu serta Teknik Pembesaran Ikan Lele ( Clarias sp.). Direktorat Jenderal perikanan   Budidaya, Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi.
Kastowo, Hadi. 1979. Zoologi Umum. Alumni. Bandung.

Kimball, J. W. 1991. Biologi Jilid II. Erlangga, Jakarta.
Prawirohartono. 1989. Biologi. Erlangga, Jakarta.
Radiopoetro. 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta.

Storer, I. Tracy; Usinger, Robert L. 1957. General of Zoology. Mc Graw HillBook Company Inc. New York.

Suyanto, SR. 1991. Budidaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.